Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player

nunung

Bersama Ustadz Salim Arif Fillah @Tausiyah “Kekuatan Cinta dalam Pendidikan”


Share Button

MARHABAN YA RAMADHAN

UCAPAN PUASA OK BGT

Share Button

SDIT Samawa Cendekia Konsen Terhadap Pendidikan Kesehatan Siswa Remaja Awal


img_2782
Sumbawa Besar
—Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Samawa Cendekia, menunjukan kepeduliannya terhadap pendidikan kesehatan para siswa khususnya mereka yang beranjak menjadi remaja awal. Bentuk kepedulian tersebut dituangkan dalam bentuk kegiatan seminar Pendidikan Kesehatan Remaja (PKR), Sabtu (26/11/2016)  bagi para guru dan orang tua siswa dengan nara sumber—Sri Haryati, selaku Kasi Kesehatan Anak, Dinas Kesehatan Sumbawa.

Kepala SDIT Samawa Cendekia, Sambirang Ahmadi, mengatakan, selain di dalam kelas di SDIT Samawa Cendekia juga diadakan pembelajaran untuk guru dan wali murid. Kegiatan ini juga mengaktualisasikan bahwa tugas sekolah atau guru dengan orang tua murid sebenarnya sama dalam hal mengawal proses tumbuh kembang anak.

“Bukan hanya orang tua di rumah, tapi juga kita guru di Sekolah, sehingga kita membutuhkan ilmu tentang tumbuh kembang remaja awal. Karena SD itu sedang tumbuh kembang remaja awal,” kata Sambirang.

img_2806Sharing ustadzah tentang perubahan sikap siswa saat di sekolah
img_2796Orang tua siswa menceritakan perubahan yang terjadi pada anaknya di rumah

img_2811

Ia sebutkan, bahwa guru juga harus mengetahui dan mendeteksi gejala-gejala pertumbuhan remaja awal tersebut agar mengantisipasi dan menyiapkan treatment yang cocok untuk usia pertumbuhan usia remaja awal.

Karena sudah ada siswa di kelas 4 sudah mengalami menstruasi dan dampaknya terjadi perubahan prilaku yang awalnya periang menjadi pendiam atau sebaliknya. Terhadap siswa laki-laki, ada yang sangat aktif sejak kelas 1 dan di kelas 5 terjadi perubahan. Itu semua harus bisa memberikan treatment kepada mereka.

“Itulah fungsi kegiatan ini, kita sharing dengan orang tua dan mendatangkan pakar dari Dinas Kesehatan agar kita bisa mengawal tumbuh kembang remaja awal. Ini akan berlanjut dan supaya kita memberikan treatmen kepada anak yang bermasalah dalam belajar sebagai dampak dari kesehatan,” tukas Kepala SDIT Samawa Cendekia.

Karena menurut Sambirang, ketika ditemukan anak yang malas belajar kadang menyalahkan si anak, tapi sebenarnya tidak lepas dari orang tua atau guru yang abai terhadap tumbuh kembang si anak tersebut. Belum tentu masalah tersebut ada pada si anak, jangan-jangan karena pengaruh lingkungan, guru dan orang tua. Makanya perlu kerjasama sekolah dan orang tua.

“Sekolah tidak melulu mengurus urusan akademik anak-anak. Di SDIT SC ini kita tidak hanya bergelut di masalah akademik, tapi juga masalah karakter dan masalah kesehatan anak. Itu sebabnya saya wajibkan seluruh wali kelas mengukur kesehatan anak-anak,” ungkap Sambirang.

Pengukuran kesehatan anak tersebut antara lain pengukuran lingkar kepala, berat badan, tinggi badan dan ada raport kesehatan, disamping juga ada raport akademik dan raport karakter. Raport kesehatan dan karakter tersebut mulai diterapkan di semester ini dan dalam proses uji coba.

Pakar kesehatan anak, Sri Haryati, menambahkan, sasaran pemahaman tentang remaja terutama remaja awal, remaja tengah dan remaja akhir. Usia remaja awal 10 tahun hingga 13 tahun atau duduk di kelas 4 hingga kelas 6 SD.

img_2784

Ternyata kata Sri, remaja tersebut dari sisi keilmuan perlu mendapat masukan keilmuan dan perhatian dari berbagai sosok terutama orang tua di rumah sebagai pendidik dan guru.  Kalau tidak ada kerjasama antara guru dan orang tua akan menyulitkan dalam membentuk pribadi anak.

“Kita ketahui banyak sekali fenomena remaja yang tidak paham siapa dirinya. Contoh, remaja putri yang akan mengalami menstruasi dan remaja putra yang akan mengalami mimpi basah. Dia tidak paham, mereka beranggapan bahwa hal itu sebagai suatu yang tabu dan menyebabkan mereka takut,” urainya.

Dengan pemahaman yang diberikan tersebut lanjut Sri Haryati, orang tua dan guru paham dan ke depan menganggap kesehatan reproduksi serta pemahaman tentang siapa remaja menjadi sesuatu hal yang sangat penting dan harus disampaikan kepada remaja. Tentunya dengan menggunakan bahasa teman, bukan bahasa orang tua atau seseorang ilmiah.

Ke depannya tegas Sri, adalah tumbuhnya generasi remaja dengan sikap positif. Emosi yang bergejolak dan rasa ingin coba-coba yang dimiliki remaja dialihkan ke hal positif sehingga menjadi remaja yang produktif dan berprestasi.

“Kegiatan ini merupakan awal. Mudah-mudahan bisa diadakan di sekolah-sekolah lain. Mengapa pertama kali di SDIT Samawa Cendekia karena di SDIT SC merupakan salah satu sekolah yang sangat respek terhadap sesuatu yang baru ini. Mereka menganggap ini penting bagi guru dan orang tua yang mendidik anak,” tutup Sri Haryati.

Sumber: http://www.beritasumbawa.net/2016/11/27/sdit-konsen-terhadap-pendidikan-kesehatan-siswa-remaja-awal/

Share Button
ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter