Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player

BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI UMAR BIN ABDUL AZIS

sujarwo

Oleh: Sujarwo Abufarid, MAP

(Ketua Ikatan Da’i Indonesia Kabupaten Sumbawa)

Pemimpin tentu berbeda dengan yang dipimpin. Pemimpin harus punya kelebihan dibandingkan dengan yang dipimpinnya. Bahkan, terkadang ada fenomena pemimpin dianggap orang yang suci sehingga diagungkan dan dikultuskan pengikutnya.

Kepemimpinan setiap generasi persepsinya berbeda, apalagimenyangkut kehebatan kepemimpinannya. Ada yang menganggap hebat bila pemimpin menemukan sesuatu, meluaskan jajahannya, bahkan dianggap hebat jika punya daya linuwih dibandingkan dengan rakyatnya.

Era modern, pemimpin hebat adalah yang bisa membawa rakyatnya menuju kemakmuran, kesejahteraan. Tidak ada salahnya kita belajar dari tokoh hebat (setidaknya menurut penulis) dalam membawa kemakmuran rakyatnya yang patut dijadikan teladan, Umar Bin Abdul Azis.

Beliau adalah cucunya Umar Bin Khattab (Sang kholifah kedua setelah Rasulullah). Memang, tentu ada trah kepemimpinan yang mengalir di darahnya dari sang kakek, tapi sebenarnya bukan karena itulah Umar menjadi hebat. Lahirnya Umar tidak lepas dari peran sang kakek ketika berperan mencarikan jodoh anaknya.

Dikisahkan pada suatu fajar Umar Bin Khattab mengelilingi rakyatnya dan mendengar obrolan seorang ibu dengan putrinya. Si Ibu berkata: “Tidakkah kau campur susu yang kau perah dengan air? subuh telah datang!” Anak putrinya menjawab,”Bagaimana mungkin aku mau mencampurnya, sedangkan Amirul Mukminin telah melarang mencampur susu dengan air?” Sang ibu menimpali: “orang-orang telah mencampurnya. Kau campur saja. Toh, Amirul Mukminin tidak akan tahu”. Sang anak menjawab, “Jika Umar tidak tahu, maka Tuhannya Umar pasti tahu”. Putri inilah akhirnya yang dinikahi anaknya Umar Bin Khattab dan melahirkan tokoh Umar Bin Abdul Azis.

Kisah diatas menggambarkan bahwa kelahiran seorang pemimpin hebat dilahirkan dari proses lama serta luar biasa, kelahiran pemimpin bukan dari media yang selalu memberitakannya, keturunan orang hebat, ataupun dari pencitraan. Kehebatan didapat dari proses panjang, inilah yang mewarnai kehidupan sang tokoh yang membawa kepribadian pemimpin yang dikenang sepanjang masa.

Sederhana dan Melayani Dirinya Sendiri

Dikisahkan bahwa Umar menjahit bajunya sendiri tanpa bantuan khodimat (Asisten Rumah Tangga) beliau. Gambaran menarik tentang kesederhanaannya, suatu kali umar agak terlambat sholat Jum’at sehingga banyak orang mencelanya. Umar menjawab,” maafkan, aku terpaksa menunggu pakaianku yang sedang dicuci sampai kering.”

Suatu saat Maslamah menjenguk Umar yang sedang sakit. Ia melihat baju yang dipakai Umar sedemikian lusuh dan kotornya. Ia lalu berkata kepada Fatimah, istri umar yang tak lain adalah adik Maslamah,” Tidakkah kau bisa mencucikan pakaiannya?” Fatimah menjawab,“ Demi Allah, ia tidak memiliki baju selain yang dipakainya itu. Jika aku mencucinya, ia tidak berpakaian lagi. Subhanallah.

Betapa sederhana kehidupan sang kholifah sehingga bajunya hanya yang dipakai. Berbeda dengan para pemimpin jaman sekarang yang cenderung mengumbar kemewahan pakaiannya, Terkadang, pun warnanya hanya sejenis tapi berapa jumlah yang dimilikinya, mungkin pemiliknya sendiri tidak tahu berapa jumlahnya. Pemimpin sederhana juga tidak akan menunjukan kemewahan aksesoris pakaiannya, intan berlian, emas, batu bacan jutaan, dan sejenisnya.

Dua hal: Kesederhanaan dan melayani dirinya sendiri, rasanya, sudah mewakili karakter seluruh kepribadiannya. Hal itu mungkin susah ditemui pada pemimpin jaman sekarang, tapi bukan tidak mungkin. Karena sejarah telah membuktikan bukan Nabi atau Rasul, tapi Umar bisa melakukannya. Tentu, memang, tidak banyak yang memiliki sifat dan sikap seperti itu. Mungkin hati kita mengatakan, jaman sekarang mustahil dilakukan. Kenapa mustahil? Memang mustahil ketika tidak ada “azam” yang kuat dalam dirinya.

Masa Pemerintahannya

Lama pemerintahan Umar Bin Abdul azis memang hanya dua setengah tahun tetapi kemakmurannya susah dibandingkan dengan jaman manapun apalagi sekarang. Karena kemakmurannya, sehingga pegawainya susah mencari orang miskin, sulit menemukan orang yang mau menerima bantuan kartu sakti, kartu miskin, kartu pintar, kartu sehat atau sejenisnya pada masa pemerintahannya.

Pertanyaan kita, masih adakah Umar Bin Abdul Azis pada jaman sekarang ini, atau minimal orang yang sengaja mewakafkan hidupnya untuk berusaha mewujudkan kemakmuran seperti sikap Umar? Yakin, sejarah pasti akan berulang, Umar-Umar pasti akan lahir di kalangan kita. Tapi kapan?? Wallahu a’lam.

Share Button

One Response to BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI UMAR BIN ABDUL AZIS

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter