Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player
Arsip

ANAK TIDAK (HARUS) JUARA

sujarwo

Oleh: Sujarwo Abufarid, MAP

(Ketua Ikatan Da’i Indonesia Kabupaten Sumbawa)

Penulis sangat sedih ketika mengantar si kecil mengikuti lomba mewarnai pekan yang lalu. (Setidaknya, kejadian ini bukan yang kali pertama penulis lihat). Ketika lomba dimulai orang tua/pengantar tertib. Tapi, beberapa saat kemudian suasana menjadi gaduh karena anak-anak dibantu orang tuanya untuk menyelesaikan gambar yang diwarnai. Himbauan bahkan ancaman mendiskualifikasi berkali-kali yang disampaikan panitia tidak dihiraukan, seperti angin lalu. Apakah ini semua dilakukan orang tua karena berharap anaknya dapat menjadi juara yang memang hadiahnya cukup lumayan? Setelah selesai lomba si kecil bertanya:”Bi, kenapa tadi ndak bantuin adik mewarnai, biar dapat juara?”

Proses lebih penting

Harapan orang tua agar anaknya menjadi juara tentu tidak salah. Tidak dipungkiri, jika mendapat juara, selain anaknya semakin percaya diri juga ada kebanggaan tersendiri dari orang tua. Dengan harapan menjadi juara, apakah akhirnya para orang tua mengabaikan proses untuk menjadi juara?

Membantu anak (pada saat tidak diperbolehkan) tentu merupakan tindakan kurang tepat, apalagi di saat lomba. Anak jadi takut berekspresi, takut melakukan karena akan disalahkan oleh orang tuanya (walapun) belum tentu salah, dan menjadi preseden buruk bagi anak pada fase pertumbuhannya.

Diskusi dengan penggiat pendidikan bahwa kejadian mirip seperti ini juga sering terjadi dalam dunia pendidikan kita. Ketika Ujian Nasional para pendidik berusaha semaksimal mungkin agar anak didiknya mendapat nilai maksimal. Bahkan, ada yang secara masif berupaya agar anak didiknya lulus seratus persen dengan mengabaikan proses, benar atau salah. Padahal, mengajarkan kejujuran jauh lebih penting daripada berhasil tapi caranya tidak sportif.

Tapi, menurut hemat penulis, harus lebih mengedepankan proses dari pada hasil itu sendiri. Tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara. Dalam tinjauan agama, proses jauh lebih penting daripada hasil. Nasehat tidak harus menghasilkan hasil/hidayah, karena memang bukan prerogatif manusia. Kita tetap mendapat pahala ketika menasehati. Surah al-Qashas ayat 56, menjelaskan: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau sayang, namun Allah jualah yang boleh memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui golongan (yang berhak) mendapat petunjuk”. Hidayah adalah hasil sedangkan nasehat adalah prosesnya.

Anak Itu Berproses

Belajar bagi anak-anak adalah suatu proses mencari pengalaman yang baik. Pendapat James Whitaker dalam Wasty Soemanto (1990) perlu kita renungi, bahwa proses belajar mengubah tingkah laku melalui latihan dan pengalaman. Orang Bijak mengingatkan, “ Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, Belajar di waktu tua bagaikan mengukir diatas air”.

Menjadi hak anak untuk menuangkan kemampuannya tanpa tekanan orang tua ataupun gurunya. Karena anak akan belajar mempetanggungjawabkan apa yang telah diperbuat kepada dirinya sendiri dan masyarakat sebagai fungsi penddidikan. Sebagaimana menurut Durkheim, fungsi pendidikan sebagai kontrol sosial: pendidikan moral dapat digunakan  untuk menahan atau mengurangi sifat-sifat egoisme  pada anak-anak, menjadi pribadi yang merupakan bagian masyarakat  terintegral dimana anak harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial.

Biarkan anak berproses secara alami sebagaimana di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003: ”Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Nah… kita sebagai pendidik, orang tua, wali, pendamping harus memahami bahwa tugas kita hanya membimbing, menstimulus, dan mengarahkan anak kita sesuai kemampuan yang dimiliki anak didik kita.

Kisah Inspiratif

Rasulullah Muhammad, adalah sosok yang terkenal buta huruf, tidak bisa baca tulis toh menjadi tokoh dunia yang luar biasa. Tidak salah sehingga Michael H. Hart dalam bukunya A Ranking Of The Most Influential Persons In History menokohkan Muhammad pada urutan pertama, tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Begitu juga kisah Thomas Alpha Edison, penemu listrik, sewaktu kecil disebut si  anak dungu. Namun kemudian si anak dungu menjadikan “bumi terang pada malam hari”. Ia mencoba 999 lebih eksperimen berbeda tanpa hasil. Tapi, pada percobaannya yang ke-1.000, tiba-tiba cahaya muncul. Si anak dungu berhasil!

Suatu hari, seorang anak berusia 4 tahun yang telinganya sedikit kurang dan tak pintar di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya membaca kertas tersebut: “Tommy pelajar yang sangat bodoh di sekolah, kami minta ibu untuk memberitahunya supaya tidak perlu datang lagi ke sekolah ini.”
Ibunya menangis membaca surat dari sekolah  itu, namun hatinya berkata, ”Anakku Tommy bukan anak bodoh, biar aku sendiri yang mendidik dan mengajar dia”. Siapa yang menyangka bahwa anak kecil yang telinganya sedikit kurang dan bodoh hingga diminta D.O. ini, akhirnya menjadi seorang ilmuwan genius? Siapa yang mengira ketika dewasa Edison muncul sebagai ilmuwan terkemuka dunia yang menciptakan lampu, ponograf dan kamera? Jawabannya adalah ibunya!  Ibunya Nancy Edison tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah bahwa anaknya bodoh, dia sebaliknya mendidik sendiri Thomas untuk menjadi seorang ilmuwan yang paling genius. Tanpanya, mungkin hingga kini kita masih bergelut dengan gelap.

Seandainya waktu itu, sekolahnya, ibunya, hanya berorientasi hasil/prestasi saat itu maka pupus harapan masa depan Thomas. Ibunya, mementingkan proses yang harus dilalui anaknya, belajar, belajar, dan belajar.

Kesimpulan

Orientasi anak selalu juara harus dirubah, karena hasil proses belajar menurut Nana Sudjana, pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Begitu juga pendidikan sesuai kurikulum 2013 (jika diberlakukan kembali) intinya berbasis karakter, yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. Siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun, serta disiplin yang tinggi. Artinya, sangat mengutamakan proses dibandingkan hasil. Jika proses benar outputnya pasti luar biasa.

Akhirnya, bantulah anak untuk memiliki moral dan kesopanan yang luhur serta menjunjung tinggi kejujuran sesuai yang diajarkan agama masing-masing, tapi alangkah lebih baik kalau diberi contoh atau teladan yang baik dari orang tua dan guru karena anak lebih mudah meniru dari pada mentaati. Biarkan anak kita berekspresi, berkreasi, mencari pengalaman, untuk menciptakan karakter murni dalam dirinya.

Sebagai penutup. penulis mengutip pendapat K.H. Dewantara bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek) dan jasmani anak. “Bukan sebatas menjadi juara”

Sampai disini, masihkah kita selalu berharap kepada anak (didik) harus juara tapi mengabaikan proses itu sendiri??Penulis akhirnya menjawab pertanyaan si kecil: “Adik… adik harus jujur pada diri sendiri” (*)

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter