Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player
Arsip

SEKOLAH KITA ADALAH POHON PERADABAN

SEKOLAH KITA ADALAH POHON PERADABAN

7_6

Oleh : Sambirang Ahmadi

Sekolah itu laksana pohon peradaban. Pada saat kita menanam sebuah pohon, tentu kita berharap pohon itu kelak tumbuh subur, kemudian memberikan kerindangan dan kesejukan. Siapapun yang berada di sekitar pohon itu akan merasakan suasana relaksasi, atau seperti sedang berekreasi. Hati, pikiran, dan raganya menyatu dalam ketenangan dan kedamaian. Di bawah naungan pohon peradaban itu, setiap orang dapat melukis warna masa depannya dengan penuh optimisme.

Sebagai sebuah pohon, sekolah tidak akan tumbuh dengan baik jika kekurangan air. Maka air itu adalah kita: guru dan seluruh karyawan sekolah. Untuk itu, setiap guru harus mampu menyiram sekolah dengan ilmu dan kreativitasnya. Setiap karyawan harus mampu memberikan pelayanan terbaiknya kepada pemangku kepentingan sekolah. Tanpa ilmu,kreativitas dan pelayanan yang maksimal, sekolah akan kehilangan ruh, layu, dan bahkan mati.

Siswa-siswa kita adalah tunas harapan. Mereka membutuhkan ilmu dan kreativitas guru, serta lingkungan pembelajaran yang baik. Tapi mereka akan kehilangan harapan bila guru-gurunya tak mampu menjadi air yang baik dan menyegarkan.

Jika siswa kita adalah “lebah”, maka sekolah kita adalah pohon pilihan mereka. Mereka memetik makanan dan sekaligus bersarang di pohon kita. Betapa senangnya hati para orang tua, bila sekolah kita mampu menjadi lingkungan bagi tumbuh-kembangnya pribadi-pribadi siswa yang berkarakter lebah. Kata Nabi Muhammad SAW.: “lebah itu tidak makan kecuali yang terbaik (saripati bunga), tidak memberi kecuali yang terbaik (madu), dan bila hinggap di ranting yang rapuh sekalipun dia tidak mematahkannya ” (HR. Al-Baihaqi).

Ilmu dan kreativitas guru yang hidup dan senantiasa berkembang itulah “saripati bunga” bagi siswa. Kemampuan siswa mengamalkan secara nyata ajaran gurunya di dalam dan di luar sekolah itulah “madu” yang menyehatkan bagi sekolah dan orang tua. Jika sekolah ini “rapuh”, maka kewajiban kita adalah mengokohkannya dan mengembangkannya, tidak mematahkannya!

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter