Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player

UTS DAN TECHNOPRENEURSHIP

sambirang

Oleh : Sambirang Ahmadi*

Sejak dirintis dan resmi beroperasi pada tahun 2012, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) telah menunjukan dirinya sebagai kampus yang layak diperhitungkan. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, UTS tumbuh pesat baik secara fisik maupun jumlah mahasiswanya. Tidak muda mendirikan perguruan tinggi, disamping proses administrasinya yang rumit, juga membutuhkan kemampuan khusus dalam hal meyakinkan publik. Keyakinan dan kepercayaan dari lingkungan eksternal kampus mutlak diperlukan, lebih-lebih untuk kampus yang baru dirintis, apalagi jika bangunannya jauh dari komunitas perkotaan, Tak sedikit orang yang ragu dan bernada pesimis pada saat peletakan batu pertama bangunan kampus ini oleh Gubernur NTB, Zainul Majdi. Tapi bagi orang yang mengerti filosofi perencanaan dan berpikiran maju tentu saja bisa membaca tendensi suatu bangunan kampus dibangun di area yang jauh dari kota dan belum well-infrastructur. Seperti kata Dahlan Iskan : “air tak perlu dalam yang penting ada naganya, gunung tak perlu tinggi yang penting ada dewanya.”

Kini, secara perlahan, UTS telah merubah apa yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin. Implikasi perubahan mulai tampak baik secara sosial, ekonomi, dan spasial. Diakui atau tidak, eksistensi UTS telah merubah persepsi, cara pikir dan mental window sebagian besar masyarakat. Ternyata perubahan memang harus dipimpin oleh mereka yang berpikir tidak biasa, berani bertindak “out of the box”. Sejauh ini, banyak tokoh negeri dari kalangan akademisi dan praktisi datang silih berganti memberikan kuliah umum. Tentu saja ini menarik karena ikut mempercepat dan memperkuat proses tumbuhnya kepercayaan terhadap lembaga (institutional trust) UTS. Filosofi “elang” yang dianut UTS, secara perlahan tapi pasti, terus menunjukan bentuknya dan menemukan rasionalitasnya. Terutama ketika mahasiswa UTS mampu membuktikan keunggulan kompetitifnya di tingkat dunia : juara iGEM (International Geneticaly Engeneering Machine) 2014 di Boston, Amerika Serikat, dan pemenang Worlwide UNESCO Club Youth Multimedia Competition 2015 yang digelar UNESCO-PBB. Diantara mahasiswa UTS juga sudah ada yang terlibat kolaborasi riset di National Institute of Material Science (NIMS) di Tsukuba–Jepang, dan menjadi duta Indonesia dalam ASEAN University Youth Summit (AUYS). di Kuala Lumpur, Malaysia.

Apa yang terjadi dengan kampus UTS saat ini adalah derivasi dari ide besar dan mimpi pendirinya. Setidaknya ada tiga modal utama yang mempengaruhi laju UTS, yaitu Ide, Orang, dan Uang. Pertama, ide untuk meningkatkan kapabilitas teknologi daerah dan nasional. Pemberian nama “universitas teknologi” adalah perlambang dari core competence yang hendak ditumbuh-kembangkan di kampus ini. Kapabilitas teknologi adalah komponen penting dari sistem inovasi dan sangat berperan dalam peningkatan daya saing daerah. Daerah yang berdaya saing tentu akan berkontribusi terhadap daya saing nasional. Kedua, orang yang menggerakan. Pendiri UTS, DR.Zulkieflimansyah, adalah seorang ekonom yang sangat menjiwai arti dan peran penting teknologi sebagai tool untuk memajukan daerah. Selain memiliki otoritas keilmuan di bidang tsb, ketokohan dan networking yang dimilikinya sangat berpengaruh terhadap mobilitas UTS. Kemampuannya menghadirkan SDM dosen dari luar daerah yang kompeten dan berpengalaman dalam research and development (R&D) di tingkat internasional khususnya di bidang teknologi, diantaranya seperti DR. Arif Witarto, menjadi diferensiasi tersendiri. Ketiga, uang sebagai lubrikasi, atau sumberdaya penentu yang melancarkan proses pembangunan UTS. Karena ide tentang teknologi ini menarik, orang yang menggerakannya kapabel, maka uang pun mengalir ke UTS dari banyak pintu : pemerintah, BUMN, dan perusahaan-perusahaan swasta. Ketiga modal tersebut, ide-orang-uang, seperti sebuah sistem yang saling menguatkan bagi perkembangan UTS. Anda mungkin punya ide yang bagus tapi financial supporting terbatas, atau mungkin punya uang tapi miskin ide dan kapabilitas menggerakan, hasilnya sia-sia.

Mewujudkan Technopreneurship University

Tantangan bagi UTS saat ini adalah bagaimana menjadikan kampus sebagai pusat pengembangan inovasi dan teknologi yang diperhitungkan. Dengan kata lain, mampukah UTS tumbuh menjadi technopreneurship university? Karakter kampus teknopreneursip berbeda dengan kampus biasa (teaching university), dimana kegiatan pengajaran lebih dominan daripada kegiatan riset dan development (R&D). Orientasi kampus teknopreneur adalah melakukan penemuan baru (invensi), mengembangkan teknologi-teknologi baru dan inovasi. Kampus-kampus seperti ini umumnya berkembang di negara-negara maju dan menjadi pilar daya saing nasional. Istilah technopreneurship merupakan gabungan dari technology (kemampuan iptek) dan entrepreneurship (kewirausahaan).

Bibit-bibit unggul daerah yang disemai di UTS diharapkan menjadi teknopreneur : SDM yang unggul dalam R&D dan mampu menjadi pengusaha/pebisnis hebat berbasis terknologi, serta mampu berkontribusi bagi peningkatan daya saing daerah. Dengan kata lain, diharapkan dari rahim UTS lahir teknopreneur-teknopreneur handal, yang mampu melakukan inovasi dan komersialisasi teknologi sehingga menjadi produk yang diterima secara luas. Tentu saja inovasi dan teknologi yang paling cocok dikembangkan di Sumbawa adalah berhubungan dengan potensi keunggulan sumberdaya alam lokal, diantaranya seperti yang dirintis Julmansyah dalam produksi dan pemasaran madu hutan Sumbawa.

Belajar Dari Negara Maju

Rektor UTS yang baru, DR. Arif Witarto, menyatakan akan menyulap Sumbawa menjadi seperti Boston, Amerika Serikat. Memang, Boston adalah daerah maju dengan topangan kampus teknologi terkemuka : Massachusetts Institute of Technology/MIT. Ini adrenalin keilmuan dan kepemimpinan yang bagus dan sangat progresif yang mesti ditangkap oleh pemerintah daerah. Kompetensinya di bidang bio-teknologi harus dimanfaatkan dan dimaksimalkan oleh pemda dalam merancang sistem inovasi daerah berbasis agribisnis. Kekayaan SDA Sumbawa, khususnya di bidang agribisnis hulu-hilir, akan terekspos dan terkelola dengan maksimal bila ada inovasi dan kesiapan teknologi. Dan ini bisa diciptakan bila melibatkan SDM atau ahli bio-teknologi yang sudah mendunia.

Penting untuk direnungkan: negara maju bukanlah negara yang melimpah kekayaan sumberdaya alamnya (SDA), melainkan negara yang mengembangkan strategi bersaingnya melalui keunggulan teknologi yang dimilikinya. Mereka berjuang menguasai iptek untuk menyiasati keterbatasan mereka dalam SDA. Mereka sangat konsen pada penguasaan R&D teknologi, desain produk, dan pemasaran. Sedangkan manufaktur yang melibatkan permasalahan buruh mereka subkontrakkan ke negara berkembang. Basis pengembangan ekonomi negara maju adalah iptek (knowledge based economic), sehingga mereka cenderung mencari partner–partner yang SDA-nya melimpah, tetapi knowledge–nya rendah. Pendidikan pada negara maju beorientasi melahirkan anak bangsa yang mampu mandiri dan berinovasi melalui penciptaan teknologi sebagai keunggulan bersaingnya. Keunggulan ini biasanya disebut dengan keunggulan entrepreneurship atau technopreneurship.

Sebut saja, misalnya, Singapura. Negara kecil ini paling maju dalam penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas hidup penduduknya di Asia Tenggara. Pada tahun 1960-an negara ini tergolong miskin di Asia, namun 20 tahun kemudian dan seterusnya negara ini mampu bangkit dan menjelma menjadi macan Asia, bersama-sama dengan Korea, Taiwan, dan Hong Kong (the Asia’s Four Tigers). Begitu juga Jepang, bahkan negara ini tidak memiliki sumberdaya alam, seperti minyak, batubara, bijih besi, tembaga, mangan, bahkan kayu, tapi SDM mereka sangat kapabel dalam teknologi. Mereka maju dengan cepat karena adanya kolaborasi apik antara 3 aktor : pemerintah, pengusaha dan lembaga R&D universitas.

Sumbawa berpeluang menjadi kota teknologi, science city, yang maju jika ditopang oleh lembaga pendidikan tinggi yang hebat dan mendunia, serta industri yang akrab dengan universitas. Itulah fungsi Science and Technology Park sebagai instrumen dan jembatan kepentingan 3 aktor pembangunan : pemerintah, dunia usaha dan universitas. Karenanya, sudah seharusnya pemerintah, pengusaha dan universitas di daerah ini berkolaborasi melahirkan dan menumbuhkembangkan generasi – khususnya mahasiswa- yang bermental technopreneurship. Hanya dengan bertambahnya jumlah mereka inilah, daerah akan maju dan berdaya saing.Semoga!.

*Penulis adalah salah seorang pengajar di Fak. Psikologi UTS

 

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter