Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player

DAYA SAING, STP DAN SISTEM INOVASI DAERAH

wb

Oleh : Sambirang Ahmadi*
Salah satu problem yang kerap menghambat percepatan kemajuan suatu negara/daerah/kawasan adalah rendahnya daya saing (the low of competitiveness). Secara teori, variable daya saing ini menjadi faktor kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu kawasan baik skala nasional, regional, dan global. Daya saing dalam hal ini adalah terkait dengan kapasitas produksi, kapasitas inovasi, dan kemampuan suatu daerah/kawasan menarik investasi dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Atau dengan kata lain, daya saing adalah kemampuan suatu daerah meningkatkan nilai tambah atas sumberdaya yang dimilikinya. Grand desain untuk mengatasi masalah ini telah disiapkan pemerintah pusat melalui apa yang disebut dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yaitu konsep pemberdayaan kawasan berdasarkan kapasitas potensi keunggulan sumberdaya lokal kawasan yang spesifik. MP3EI adalah instrumen untuk merealisasikan visi Indonesia 2025 yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah, efisiensi dalam produksi, dan memperkuat sistem inovasi nasional (SINas).
Sekedar untuk mengingat kembali grand desain tsb, ada 6 koridor yang akan dioptimalkan : (1) koridor Sumatera sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional, (2) koridor Jawa sebagai pendorong industri dan jasa nasional, (3) koridor Kalimantan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional, (4) koridor Sulawesi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan serta pertambangan nikel nasional, (5) koridor Bali-Nusa Tenggara sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, dan (6) koridor Papua-Kepulauan Maluku sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi dan pertambangan nasional.
Strategi penyuksesan MP3EI adalah dengan mengintegrasikan 3 elemen utama : (1) pembangunan ekonomi regional, (2) penguatan konektivitas nasional, lokal dan internasional, dan (3) penguatan kapasitas SDM, science & technology, untuk mendukung program-program utama di semua koridor (Wisnu Soenarso, Dadan Nugraha, Eryda Listyaningrum, 2013). Strategi ketiga menunjukkan pentingnya pembangunan Science and dan Technology Park (STP) sebagai pilar pendukung masing-masing koridor. Sadar akan urgensi STP, pemerintah Jokowi-JK telah merencanakan pembangunan 100 STP sebagai salah satu program prioritas, sebagaimana termuat dalam sembilan agenda perubahan (nawacita) yang dimasukkan ke dalam RPJMN 2015-2019.
Pentingnya STP
STP adalah sebuah kawasan khusus yang diorganisasikan secara professional dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan komunitas di sekitar kawasan tersebut melalui pendayagunaan iptek dan budaya inovasi yang terintegrasi dengan kegiatan bisnis dan pendidikan (Dadan Nugraha, 2014). Kehadiran STP akan menjadi sarana untuk menginisiasi dan mengalirkan pengetahuan dan teknologi diantara lembaga litbang, universitas dan industri. STP juga akan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya industri-industri berbasis inovasi melalui tahap pra-inkubasi, inkubasi dan paska-inkubasi, menyediakan jasa-jasa bernilai ekonomi tinggi dalam suatu kawasan yang dilengkapi fasilitas berkualitas tinggi,seperti laboratorium, infrastruktur ICT, media relation, desain industri, intelektual properti, paten, jejaring bisnis, dll. SDM yang terlibat dalam jejaring STP akan menjadi konsultan, trainer dan mentor baik untuk bisnis skala besar (large companies), skala kecil-menengah (SMEs), dan skala pemula (start-up).
Di beberapa negara, STP atau sebutan lainnya (incubation center, techno park, research park, technopolis, business park, science park, science city, technology zone, technology corridor dan innovation cluster), terbukti berperan sangat penting dalam mendorong inovasi, membantu UMKM, dan meningkatkan daya saing (Narasimhalu, 2012, APTE, 2005). Sejauh ini, di Indonesia telah ada beberapa STP seperti Pusat Penenlitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), Solo Technopark, Bandung Technopark, Batam Technopark, Sragen Technopark, Jababeka Research Center, dan UI Science Park.
Hubungan STP dengan Sistem Inovasi Daerah
Tujuan utama pembangunan STP adalah untuk menciptakan dan memfasilitasi inovasi. Wujud inovasi bisa berupa lahirnya produk baru, perbaikan mutu produk yang telah ada, efisiensi proses, dsb. Inovasi sendiri dalam prakteknya melibatkan banyak sekali mekanisme umpan balik yang rumit dan interaktif antara iptek, pembelajaran, kebijakan, produksi dan permintaan (Zulkieflimansyah, 2002). Kehadiran STP di daerah akan menjadi instrumen penting untuk mengorganisasikan proses inovasi di daerah. sehingga harus dimasukan menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem inovasi daerah (SIDa). Sistem inilah yang akan memperkuat kerjasama saling menguntungkan antara tiga aktor inovasi : pemerintah, dunia usaha, dan universitas (triple helix). Dengan sistem ini semua aktor bisa saling belajar, berinteraksi, bekerjasama menginisiasi, memodifikasi, dan mendiseminasi invensi dan teknologi-teknologi baru (APTE, 2005). STP dalam hal ini bisa menjadi integrator bagi smua aktor inovasi di daerah.
Peluang Emas
Terpilihnya Sumbawa sebagai lokasi STP adalah peluang emas untuk mewujudkan visi Kabupaten Sumbawa 2025, yaitu :”terwujudnya kabupaten Sumbawa sebagai daerah agribisnis berdaya saing menuju masyarakat sejahtera.”(Perda KS 31/2010). Visi ini selaras dengan rencana pemerintah pusat menjadikan koridor NTB dan Bali sebagai pendukung pangan nasional dan pintu gerbang pariwisata. Potensi sumberdaya agro di Sumbawa banyak sekali, namun cara pengelolaannya masih tradisional, belum tersentuh inovasi, bahkan cenderung bersifat subsistensi. Melalui STP akan banyak sumberdaya terkerahkan ke Sumbawa, terutama jika STP tersebut didukung penuh oleh lingkungan ekternalitas di sekitarnya. Intinya, STP dapat mewujudkan apa yang disebut Badrul Munir (2013) dengan istilah PIN : percepatan, inovasi dan nilai tambah. Tinggal satu langkah : pemerintah Sumbawa menyiapkan kerangka regulasi sistem inovasi daerah!
Kehadiran STP di lingkungan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) juga menjadi tantangan tersendiri tidak hanya bagi UTS, tapi juga bagi universitas-universitas lain di sekitarnya untuk bersama-sama/berkolaborasi memanfaatkan potensi SDM (human capital) masing-masing, dalam mengembangkan research & development untuk meningkatkan daya saing daerah. Sebagai aktor utama STP, tentu kita berharap UTS menjelma menjadi universitas riset terkemuka atau entrepreneur university, magnet inovasi dan perekat kebersamaan semua aktor inovasi lainnya.
*Penulis adalah dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa
DAYA SAING, STP DAN SISTEM INOVASI DAERAH
Oleh : Sambirang Ahmadi*
Salah satu problem yang kerap menghambat percepatan kemajuan suatu negara/daerah/kawasan adalah rendahnya daya saing (the low of competitiveness). Secara teori, variable daya saing ini menjadi faktor kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu kawasan baik skala nasional, regional, dan global. Daya saing dalam hal ini adalah terkait dengan kapasitas produksi, kapasitas inovasi, dan kemampuan suatu daerah/kawasan menarik investasi dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Atau dengan kata lain, daya saing adalah kemampuan suatu daerah meningkatkan nilai tambah atas sumberdaya yang dimilikinya. Grand desain untuk mengatasi masalah ini telah disiapkan pemerintah pusat melalui apa yang disebut dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yaitu konsep pemberdayaan kawasan berdasarkan kapasitas potensi keunggulan sumberdaya lokal kawasan yang spesifik. MP3EI adalah instrumen untuk merealisasikan visi Indonesia 2025 yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah, efisiensi dalam produksi, dan memperkuat sistem inovasi nasional (SINas).
Sekedar untuk mengingat kembali grand desain tsb, ada 6 koridor yang akan dioptimalkan : (1) koridor Sumatera sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional, (2) koridor Jawa sebagai pendorong industri dan jasa nasional, (3) koridor Kalimantan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional, (4) koridor Sulawesi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan serta pertambangan nikel nasional, (5) koridor Bali-Nusa Tenggara sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, dan (6) koridor Papua-Kepulauan Maluku sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi dan pertambangan nasional.
Strategi penyuksesan MP3EI adalah dengan mengintegrasikan 3 elemen utama : (1) pembangunan ekonomi regional, (2) penguatan konektivitas nasional, lokal dan internasional, dan (3) penguatan kapasitas SDM, science & technology, untuk mendukung program-program utama di semua koridor (Wisnu Soenarso, Dadan Nugraha, Eryda Listyaningrum, 2013). Strategi ketiga menunjukkan pentingnya pembangunan Science and dan Technology Park (STP) sebagai pilar pendukung masing-masing koridor. Sadar akan urgensi STP, pemerintah Jokowi-JK telah merencanakan pembangunan 100 STP sebagai salah satu program prioritas, sebagaimana termuat dalam sembilan agenda perubahan (nawacita) yang dimasukkan ke dalam RPJMN 2015-2019.
Pentingnya STP
STP adalah sebuah kawasan khusus yang diorganisasikan secara professional dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan komunitas di sekitar kawasan tersebut melalui pendayagunaan iptek dan budaya inovasi yang terintegrasi dengan kegiatan bisnis dan pendidikan (Dadan Nugraha, 2014). Kehadiran STP akan menjadi sarana untuk menginisiasi dan mengalirkan pengetahuan dan teknologi diantara lembaga litbang, universitas dan industri. STP juga akan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya industri-industri berbasis inovasi melalui tahap pra-inkubasi, inkubasi dan paska-inkubasi, menyediakan jasa-jasa bernilai ekonomi tinggi dalam suatu kawasan yang dilengkapi fasilitas berkualitas tinggi,seperti laboratorium, infrastruktur ICT, media relation, desain industri, intelektual properti, paten, jejaring bisnis, dll. SDM yang terlibat dalam jejaring STP akan menjadi konsultan, trainer dan mentor baik untuk bisnis skala besar (large companies), skala kecil-menengah (SMEs), dan skala pemula (start-up).
Di beberapa negara, STP atau sebutan lainnya (incubation center, techno park, research park, technopolis, business park, science park, science city, technology zone, technology corridor dan innovation cluster), terbukti berperan sangat penting dalam mendorong inovasi, membantu UMKM, dan meningkatkan daya saing (Narasimhalu, 2012, APTE, 2005). Sejauh ini, di Indonesia telah ada beberapa STP seperti Pusat Penenlitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), Solo Technopark, Bandung Technopark, Batam Technopark, Sragen Technopark, Jababeka Research Center, dan UI Science Park.
Hubungan STP dengan Sistem Inovasi Daerah
Tujuan utama pembangunan STP adalah untuk menciptakan dan memfasilitasi inovasi. Wujud inovasi bisa berupa lahirnya produk baru, perbaikan mutu produk yang telah ada, efisiensi proses, dsb. Inovasi sendiri dalam prakteknya melibatkan banyak sekali mekanisme umpan balik yang rumit dan interaktif antara iptek, pembelajaran, kebijakan, produksi dan permintaan (Zulkieflimansyah, 2002). Kehadiran STP di daerah akan menjadi instrumen penting untuk mengorganisasikan proses inovasi di daerah. sehingga harus dimasukan menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem inovasi daerah (SIDa). Sistem inilah yang akan memperkuat kerjasama saling menguntungkan antara tiga aktor inovasi : pemerintah, dunia usaha, dan universitas (triple helix). Dengan sistem ini semua aktor bisa saling belajar, berinteraksi, bekerjasama menginisiasi, memodifikasi, dan mendiseminasi invensi dan teknologi-teknologi baru (APTE, 2005). STP dalam hal ini bisa menjadi integrator bagi smua aktor inovasi di daerah.
Peluang Emas
Terpilihnya Sumbawa sebagai lokasi STP adalah peluang emas untuk mewujudkan visi Kabupaten Sumbawa 2025, yaitu :”terwujudnya kabupaten Sumbawa sebagai daerah agribisnis berdaya saing menuju masyarakat sejahtera.”(Perda KS 31/2010). Visi ini selaras dengan rencana pemerintah pusat menjadikan koridor NTB dan Bali sebagai pendukung pangan nasional dan pintu gerbang pariwisata. Potensi sumberdaya agro di Sumbawa banyak sekali, namun cara pengelolaannya masih tradisional, belum tersentuh inovasi, bahkan cenderung bersifat subsistensi. Melalui STP akan banyak sumberdaya terkerahkan ke Sumbawa, terutama jika STP tersebut didukung penuh oleh lingkungan ekternalitas di sekitarnya. Intinya, STP dapat mewujudkan apa yang disebut Badrul Munir (2013) dengan istilah PIN : percepatan, inovasi dan nilai tambah. Tinggal satu langkah : pemerintah Sumbawa menyiapkan kerangka regulasi sistem inovasi daerah!
Kehadiran STP di lingkungan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) juga menjadi tantangan tersendiri tidak hanya bagi UTS, tapi juga bagi universitas-universitas lain di sekitarnya untuk bersama-sama/berkolaborasi memanfaatkan potensi SDM (human capital) masing-masing, dalam mengembangkan research & development untuk meningkatkan daya saing daerah. Sebagai aktor utama STP, tentu kita berharap UTS menjelma menjadi universitas riset terkemuka atau entrepreneur university, magnet inovasi dan perekat kebersamaan semua aktor inovasi lainnya.
*Penulis adalah dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter