Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player
Arsip

PENTINGNYA RISET DAN EKSPEKTASI POSITIF DALAM MENGAJAR

UST.MUSLIMOleh : Muslim Ranggamone, SE

Riset adalah proses berpikir kritis untuk memecahkan masalah. Hal ini merupakan kemampuan yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainya. Riset, sederhananya, adalah penggunaan pikiran manusia untuk menelusuri dan mencari jawaban-jawaban, atau seperti yang dikatakan beberapa orang: untuk menyelidiki kebenaran. Riset bukan sesuatu yang hanya dilakukan oleh ilmuwan, tapi juga guru. Guru efektif menggunakan praktik-praktik berbasis riset yang sudah teruji, dan yang sudah digunakan oleh ribuan guru yang lain.

Riset pendidikan tidak selalu bersifat teoritis, atau dilakukan dalam menara gading intelektual. Hampir semua riset pendidikan dilakukan oleh para peneliti yang langsung mengamati proses interaksi guru dan siswa di sekolah sehingga bisa melaporkan praktik-praktik yang efektif dan tidak efektif.

Setiap guru harus menyadari dan menjiwai tentang apa yang sedang diajarkan, bagaimana cara mengajarkannya, dan kenapa sesuatu itu diajarkan. Jangan mengajar dari apa yang dikatakan orang, mitos atau praktik-praktik lama. Karena itu, setiap guru harus menyadari hal-hal sebagai berkut:

  1. Kehadirannya di ruang kelas harus selalu memberikan “makna” dan semangat yang berbeda.
  2. Faktor paling penting dari prestasi belajar di sekolah adalah kemampuan guru.
  3. Terdapat pengetahuan yang luas tentang model pembelajaran yang harus diketahui guru.
  4. Guru harus menjadi pengambil keputusan yang sangup menerjemahkan pengetahuan menjadi kemampuan belajar siswa yang semakin efektif.

Apa yang harus diriset?

Idealnya setiap model pembelajaran harus dipertanyakan efektifitasnya. Sayangnya, banyak guru mengalah kepada model mengajar tertentu, filsafat tertentu, atau agenda politik pendidikan tertentu. Ada juga guru yang melompat dari satu model ke model lain, tanpa pernah menanyakan kepada peneliti bukti-bukti keberhasilannya. Inilah sebabnya Richard Elmore di Harvard University mengeluh: “sebagian besar keputusan di dunia pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah perkotaan, dibuat demi keuntungan orang dewasa, bukan anak-anak.”

Sebagai praktisi pendidikan, setiap guru perlu meriset atau mempertanyakan kembali model-model pembelajaran yang selama ini dilakukan, apakah caranya mengajar atau model pembelajaran yang dilakukan efektif atau tidak, terutama untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi siswanya. Ingatlah, pencapaian dan keberhasilan siswa adalah penyebab utama mengapa guru-guru mengajar. Model-model pembelajaran berikut ini perlu dipertanyakan melalui riset apakah efektif atau tidak, yaitu:

  • Menyuruh siswa membaca bersama dengan suara keras sebuah bab.
  • Menjawab di kelas pertanyaan-pertanyaan di akhir bab atau di lembar kerja.
  • Membacakan diktat pelajaran dan siswa diminta mencatatnya.
  • Memperlihatkan video dokumenter atau melakukan sebuah aktivitas.
  • Membuat tes berdasarkan sejumlah poin yang sudah dibicarakan.

Pentingnya Ekspektasi Positif

Riset diperlukan sebagai pengejawantahan dari ekspektasi positif seorang guru terhadap siswa-siswanya dan lingkungan tempat dia mengajar. Seorang guru akan mencapai apa pun yang dinginkan bersama siswa-siswanya jika mampu menetapkan sebuah ekspektasi positif terhadap perilaku siswa-siswanya. Untuk itu, setiap guru harus memiliki insting sukses dan harus berjuang untuk memperbesar potensi suksesnya. Ekspektasi guru terhadap para siswa akan sangat mempengaruhi pencapaian mereka di kelas dan dalam hidup mereka.

Ekspektasi positif adalah sebuah keyakinan yang optimis bahwa siapa pun yang diajarkan akan menghasilkan target capaian atau kesuksesan. Ekpekstasi positif terhadap siswa berawal dari ekspektasi positif guru terhadap dirinya sendiri. Artinya, jika guru berharap untuk menjadi sukses, maka guru harus terus waspada dan sadar terhadap peluang-peluang yang membantu guru menjadi sukses.

Ekspektasi positif dapat dilihat dari cara guru bersikap, berkeyakinan, atau berprinsip, misalnya seperti berikut ini:

  • Apa yang saya capai berasal dari cara saya bekerja bersama-sama
  • Saya yakin setiap anak bisa belajar dan akan mencapai potensinya yang penuh
  • Saya adalah seorang guru yang baik, dan saya bangga bahwa saya adalah seorang pendidik yang profesional.
  • Saya selalu belajar, dan itulah sebabnya saya senang pergi ke konferensi-konnferensi, lokakarya-lokakarya, dan hadir dalam pertemuan-pertemuan profesional.

Jika seorang guru memiliki ekspektasi positif, maka guru tersebut akan mengalokasikan banyak energi untuk meraih peluang sukses. Tidak sebaliknya, menghabiskan energi untuk mengutuk diri sendiri atau memaki-maki siswa-siswanya.

Jauhilah Ekspektasi Negatif

Ekspektasi negatif adalah sebuah keyakinan yang pesimis bahwa siswa-siswa yang diajar sulit berhasil, atau bahkan gagal. Kemudian atas dasar itu, seorang guru berpikir kenapa harus repot-repot melakukan inovasi. Dengan kata lain, ekspektasi negatif adalah sikap seorang guru untuk terus menerus mencari pembenaran, pembuktian, dan peristiwa untuk melegitimasi kegagalannya. Indikasi ekspektasi negatif dapat dilihat dalam pernyatan-pernyataan berikut ini:

  • Saya puas dengan cara saya mengajar, apa adanya.
  • Anak-anak ini memang tidak mau belajar.
  • Mereka tidak bisa membaca; mereka tidak bisa mengejar, mereka tidak bisa duduk tenang, mereka tidak bisa bersikap baik.
  • Pertemuan-pertemuan profesi sangat membosankan;
  • Seminar/workshop pendidikan tidak mempunyai apa pun yang bisa ditawarkan kepada saya.

Guru yang mempraktikan ekspektasi negatif akan mencegah siswa dari mencapai standar yang tinggi. Dia akan mudah putus asa jika menemukan siswa-siswa yang tidak sesuai dengan harapannya. Padahal, setiap guru harus ingat bahwa energi untuk mencapai hasil positif sama besarnya dengan energi untuk mencapai hasil negatif. Jadi mengapa harus membuang-buang energi untuk ‘putus asa” jika energi yang sama dapat membantu siswa-siswa anda berhasil. Simaklah kata bijak ini: “jika engkau selalu menghakimi orang lain, maka engkau tidak akan mempunyai waktu untuk mencintai mereka.

Penulis adalah deputi kurikulum SDIT Samawa Cendekia

Disarikan dari Buku Menjadi Guru EfektifThe First Day of School, Pengarang: Harry K. Wong dan Rosemary T. Wong, Penerbit: Pustaka Pelajar, Edisi: 1, 2009

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter