Telp. (0371) 24333
The Second Home For Our Children
Get Adobe Flash player
Arsip

TANTANGAN DAN KEWAJIBAN GURU BARU

fitria yunita

Oleh : Fitri Yunita, S.Pd*

            Berbicara mengenai HARI PERTAMA MENGAJAR maka rata-rata yang terbayang dalam benak seorang guru baru adalah hal tersebut akan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bahkan sekaligus menakutkan. Bagaimana tidak, menyenangkan pada saat sesuatu kegiatan yang diimpi-impikan untuk menjadi seorang pendidik dapat diterapkan langsung dan sebaliknya akan menjadi menakutkan ketika pada realitasnya akan segera dihadapkan pada lingkungan baru.

Ketika tahun pertama mengajar, perasaan  sebagai guru baru adalah rata-rata merasa gelisah apakah bisa dterima atau tidak di lingkungan barunya, merasa rapuh, terisolasi, bahkan merasa takut untuk minta bantuan kepada orang lain.

Walaupun segala macam persiapan telah dirancang dari awal dengan matang, dengan segala rencana dan instrumen mengajar, belajar tentang teori-teori pendidikan dan perkembangan anak, bahkan belajar tentang kosakata-kosakata yang akan diperdengarkan pada peserta didiknya, namun perasaan “terasing dan belum berpengalaman” biasanya jauh lebih mendominasi dari kesemuanya. Hal ini tidak terlepas bahwa walaupun sang gurua pada awalnya adalah para calon-calon yang memang menuntut ilmu khusus di bidang keahlian guru, namun pada tahap tersebut calon pendidik biasanya hanya akan diberikan ‘teori’ bukan pada ‘praktek” langsung. Memang ironis kalau dipikir, namun begitulah kenyataannya.

Hal ini menjadikan guru baru merasa kesulitan menghadapi tahun-tahun pertama menjadi seorang guru. Kecakapan dalam hal instruksional memang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber seperti buletin, aktivitas organisasi, proyek penelitian dan pengembangan, seni, buku pendidikan, dan bahkan media. Namun untuk masalah noninstruksional seperti bagaimana mempertahankan disiplin anak, melakukan pertemuan dengan wali murid dan orang tua siswa, mengisi buku raport, melakukan prosedur dan rutinitas mengajar, dan bahkan bagaimana  bersikap pada saat berhadapan dengan siswa dan kolega akan sangat menguras energi saat memikirkannya.

Jadi tak heran, pada tahun pertama mengajar para guru baru mau tak mau akan meminta tolong kepada rekan kerja yang lebih senior untuk membantu mereka pada saat membuka kegiatan awal belajar bahkan sampai pada penguasaan kelas, sehingga para guru baru biasanya untuk beberapa lama akan menjadi asisten bagi guru seniornya dalam hal mempertahankan suasana atau kondisi kelas.

Dari fenomena tersebut, lembaga sekolah tempat para guru bekerja diharapkan bisa memecahkan masalah seperti ini. Sekolah sangat diharapkan untuk menyiapkan cara efektif bagaimana para calon guru bisa menjadi guru yang profesional seperti tuntutannya dengan cara sekolah harus menyiapkan strategi melalui program peningkatan mutu untuk para guru baru. Sebelum para guru diterjunkan langsung dilapangan/mengajar dalam kelas, sebaiknya mereka diberikan pelatihan keterampilan mutu mengajar sebelum memegang kelas dan kegiatan tersebut diusahakan tetap dapat dilaksanakan sampai beberapa tahun berikutnya, walupun guru-guru tersebut sudah mengajar dalam lembaga mereka.

Dengan demikian, para guru akan menjadi para pengajar yang handal dan akan lebih cakap dan terampil dalam bersikap terhadap perkembangan peserta didiknya baik dalam bidang pengetahuan dan sikap sosialnya. Para guru juga harus menjadi mitra handal bagi orang tua atau wali muridnya. Dengan pelatihan yang kontinyu dan berkesinambungan, maka para guru baru akan memiliki pegangan tentang bagaimana mereka harus berusaha meningkatkan kemampuan mereka sendiri. Kegiatan atau program keahlian ini diharapkan juga bisa memberikan para guru titik tolak orientasi, pementoran, dan evaluasi yang bertahap sehingga para guru baru dapat segera melakukan tugas dengan baik sembari terus sambil mempelajari tugas-tugas tersebut dalam waktu bersamaan.

Jadi tidak mustahil, para guru baru bisa tampil sempurna pada tahun pertama mereka mengajar dengan program keahlian yang tepat serta tentunya mendapatkan mentor atau pendamping yang baik yang bisa menjadi teladannya. Untuk itu, para guru baru disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Bekerja secara kooperatif dan belajar dari rekan-rekan sekolahnya
  2. Mencari seorang mentor yang dapat dijadikan sebagai model peran yang sukses, agar bisa belajar dalam hal penguasaan kelas serta belajar menjaga kedisiplinan anak
  3. Pergi ke pertemuan-pertemuan profesional untuk terus belajar dan menggali ilmu lebih banyak
  4. Memiliki komitmen berjuang menuju keinginan untuk dapat menjadi guru profesional dan sempurna.

Kewajiban Guru Baru

Profesi guru adalah suatu profesi yang bergerak dalam suatu lingkup lembaga yang memiliki peraturan dan regulasi yang mengikat semua guru yang berada dalam lingkupnya. Guru harus berjalan sesuai dengan peraturan yang telah dibuat lembaga, terikat pada kurikulum dan dituntut untuk mengembangkannya. Lingkup guru tentunya dikelilingi oleh banyak orang yang memiliki pengalaman misi masing-masing yang harus diselaraskan untuk mencapai kesepakatan kurikulum pada satu lembaga yang terikat.

Dengan melihat fakta tersebut, maka profesi guru adalah profesi yang membutuhkan kerjasama antar semua anggota dan bagian dalam lingkup lembaga, dan bukan profesi yang hanya berjalan atas keinginan pribadi individu masing-masing. Menjadi guru secara otomatis harus dapat mengikuti dan menyesuaikan diri sesuai dengan peran/tugas yang diberikan oleh lembaga tempat bernaung. Hal ini memang tidak mudah, namun harus dapat dilakukan.

Sebagai suatu bagian dari kesatuan lembaga, maka seorang guru hendaknya siap ketika diberi tantangan untuk bisa melangkah pada tempat dan situasi yang berbeda. Pemindahan keadaan seperti ini menuntut guru menghadirkan antusiasme yang sama seperti keadaan sebelum diberi tantangan. Antusiasme itu juga harus bisa dihadirkan pada para peserta didiknya. Hal ini dapat tercipta, jika guru dapat menginisiasi pertemuan yang berkesinambungan dengan para orang tua/ wali murid, senantiasa melakukan program-program pelayanan, konferensi-konferensi terhadap berbagai situasi kelas, dan senantiasa dapat mengikuti lokakarya-lokakarya yang kita harapkan bisa meningkatkan pengembangan dirinya. Dengan demikian, seorang guru-meskipun tergolong baru- akan mampu berubah dan beradaptasi dalam setiap kondisi, sehingga tetap bisa tampil maksimal memberikan peran dan kontribusi yang besar bagi komunitas lembaga dan masyarakat di sekitarnya.

Setiap guru baru harus mampu bekerjasama dan bertukar pikiran dengan rekan guru lainnya, senior-senior yang memang sudah efektif dalam menangani kelas. Dari mereka, guru baru bisa mengambil banyak pelajaran. Terus berpikir: jika mereka bisa dan sukses, maka saya pun bisa menjadi demikian. Jika memang ingin menjadi seorang guru yang efektif, maka jangan menjadi pribadi yang sinis dan menutup diri terhadap lingkungan sekitar. Justru sebaliknya guru baru harus mampu menjadi pendengar yang baik terhadap rekan-rekan di sekitarnya.

Berdasarkan uraian tersebut, maka untuk mencapai tujuan menjadi guru yang efektif, seorang guru baru wajib memiliki kemampuan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bisa mengikuti kurikulum sekolah dan mengelola kelas yang ditunjuk
  2. Menyadari bahwa profesi mengajar yang dilakukan adalah bukan sebuah praktik privat
  3. Fleksibel dan bisa beradaptasi dalam setiap perubahan keadaan dan situasi
  4. Mendengar, mendengar, dan bisa terus menjadi pendengar yang baik.**

*Penulis adalah wali kelas 3 Imam Nasa’I SDIT Samawa Cendekia

**Maroji’ Buku Menjadi Guru EfektifThe First Day of School, Pengarang: Harry K. Wong dan Rosemary T. Wong, Penerbit: Pustaka Pelajar, Edisi: 1, 2009

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ANDA PENGUNJUNG KE
Flag Counter